Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2011

Hujan Keroyok

Teringat salah satu pertanyaan aneh yang saya dapatkan dari seorang teman. Pertanyaan yang biasa, namun jarang kita pikirkan. "Mengapa kita takut akan hujan?"

Saya berpikir. Takut basah, kah? Teman saya pun menggeleng tersenyum. Ah, mungkin takut sakit. Kalau basah-basah kan bisa sakit. Teman saya kembali mengeleng, kini dengan senyuman yang semakin lebar. Hemm.. tak habis pikir. Kira-kira kenapa ya? Saya tahu jawabannya akan "GJ", tapi tidak akan keluar dari logika. Namun apa? Saya masih kebingungan, dan akhirnya menyerah juga dengan pertanyaan tersebut.

Rabu, 05 Januari 2011

Ada yang Bekerja Untukmu!!

Teman, sering makan nasi, bukan?

Saya rasa, bila teman-teman ashli Indonesia, teman-teman setidaknya pernah makan nasi. Dan saya yakin, mayoritas yang membaca blog ini pun adalah yang menjadikan nasi sebagai makanan utama sehari-hari. Entah kemudian yang ngekos menambahkannya dengan mi instan. Atau mungkin makanan sehari-harinya adalah puasa (salut). Tapi, setidaknya pernah makan nasi, bukan?

:)

Senin, 20 Desember 2010

Ya Rasulullah


Ya Rasulullah Ya Habiiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah

Kami rindu padamu


Ah, setiap kali kudengar lagu yang dikumandangkan oleh Raihan ini, selalu ada perasaan baru dalam diriku. Perasaan, yang, entahlah, begitu mengena. Begitu jujur menggambarkan kepribadian Rasulullah. Begitu indah.

Rabu, 15 Desember 2010

Arti Sebuah Kejujuran

Mubarok namanya. Seorang pekerja kebun delima yang begitu jujur dalam kesehariannya. Tak hanya jujur, ia pun begitu amanah. Jujur dalam diamnya. Jujur dalam ucapannya.

Suatu hari, majikannya-pemilik kebun tersebut-mendatanginya, kemudian mengatakan, "Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis."

Bergegaslah Mubarok menuju salah satu pohon dan memetik salah satu buah delima, kemudian menyerahkan buah tersebut kepada tuannya yang menunggunya. Ketika majikannya memecahkannya, ia mendapatkan buah delima itu masih masam, lantas memarahi Mubarok. "Aku memintamu buah yang manis, malah kau beri yang masih asam! Cepat, ambilkan yang manis!"

Selasa, 14 Desember 2010

Hafal Nasyid

Kami sadari jalan ini
Kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzhaliman
Yang akan kami hadapi

Kami relakan jua serahkan
dengan tekad di hati
jasad ini darah ini
sepenuh ridha Ilahi..