Pernahkah
Anda menaiki bis dari Malang, Jawa Timur, ke Mataram, Nusa Tenggara Barat?
Perjalanan yang dibutuhkan sekitar 20 jam, jadi Anda harus siap mental dan
kesehatan sebelumnya. Ada dua bis yang bisa membawa Anda ke sana, bila Anda
tidak berniat mengganti bis dari awal sampai tiba di sana. Bis pertama bernama
Titian Mas, yang biasanya dipilih orang-orang karena kualitasnya yang lebih
daripada pesaingnya. Bis kedua bernama Tiara Mas, yang menjadi pilihan ketika
Titian Mas telah penuh. Namun secara umum, pelayanan kedua bis tak jauh
berbeda. Sangat di bawah standar bila dibandingkan dengan bis-bis lain yang
meluncur di propinsi-propinsi di pulau Jawa.
Bukan bisnya
yang ingin saya bicarakan sekarang. Namun yang ingin saya bicarakan adalah
tiketnya. Setiap bis memiliki tiket tersendiri. Ketika Anda memiliki tiket bis
Titian Mas yang berangkat tanggal 23 September, tentu Anda tidak bisa menaiki
bis Tiara Mas yang berangkat pada hari yang sama. Atau Anda misalkan memiliki
tiket kedua bis pada tanggal tersebut, namun Anda ingin berangkat pada tanggal
24 September misalkan. Jangan harap Anda akan diberi izin naik, bila Anda tidak
mengkonfirmasikan sebelumnya. Intinya, Anda harus memiliki tiketnya ketika Anda
ingin naik ke dalam bis tersebut, bukan?
Lalu
bagaimana dengan surga?
Surga, pun
ternyata memiliki tiket. Meski tidak berbentuk fisik, dan sangat jarang disebut
tiket, namun surga tetap saja memiliki tiket. Lebih sering ia disebut kunci
surga. Atau amalan-amalan yang membawa kita ke surga. Lantas, bila surga
memiliki tiket, tentu ia bisa dibeli, bukan?
Tentu. Tiket
ke surga pun bisa dibeli. Namun tidak dengan uang yang Anda miliki (secara
langsung).
Telah tercium
semerbak kisah Bilal yang terdengar terompahnya masuk surga, bahkan sebelum ia
meninggal. Ketika hal itu ditanyakan oleh Rasulullah, maka Bilal ra menjawab,
bahwa karena ia selalu menjaga wudhunya (dalam riwayat lain, karena setiap
selesai berwudhu, ia selalu shalat dua rakaat).
Pun pula
dengan cerita seorang sahabat yang lewat di depan Rasulullah, dikatakan oleh
utusan-Nya itu, bahwa sahabat itu akan masuk surga. Teliti punya teliti,
ternyata sahabat tersebut, ketika akan tertidur, selalu memaafkan semua orang
yang berbuat zhalim kepadanya.
Banyak cerita
lain yang ada. Terkait janji Rasul bahwa mereka akan masuk surga, dengan
amalannya masing-masing. Bukankah tiap orang akan masuk surga akan masuk
melalui pintu sesuai dengan amalannya? Yang rajin shalat, akan masuk melalui
pintu shalat. Yang sering bertilawah, tentunya akan masuk lewat pintu yang
dikhususkan untuk mereka yang sering-sering bertilawah. Orang-orang yang masuk
lewat pintu sedekah, tentunya semasa hidupnya adalah orang yang rajin
bersedekah. Dan orang-orang yang berpuasa, akan dimasukkan lewat pintu
ar-Rayyan.
Itulah kisah
sahabat. Masing-masing memiliki kelebihan tersendiri dalam ibadahnya. Membuat
mereka mudah menghembuskan nafas keimanan, menghirup wangi surga bahkan sebelum
mereka meninggal.
Itulah kisah
para sahabat. Lalu kita, apakah kelebihan kita yang membuat kita yakin bahwa
kita akan masuk surga?
Semua
mendambakan surga, namun sebesar apa usaha kita untuk mencapainya? Kiranya kita
bisa berdiam diri saja, berpikir, “yang penting saya sudah bersyahadat. Tidak
apa-apa disiksa sebentar di neraka, yang penting akhirnya saya akan masuk
surga.” Padahal sehari dalam ukuran akhirat lebih lama daripada yang bisa kita
bayangkan. Bahkan, sekejap saja (hanya sekejap!!) dimasukkan ke dalam neraka,
terlupakanlah semua nikmat yang pernah anda terima di dunia, saking beratnya
neraka itu.
Ya. Tiket
surga itu mahal. Tidak ada tuslah (kenaikan harga saat menjelang lebaran). Yang
ada adalah diskon besar-besaran (Ramadhan, Idul Fithri, Lailatul Qadr,
saat-saat doa diijabah, istri yang mendapatkan ridho suami, dll). Tinggal kita
yang memilih, ingin mendapatkannya segera, atau menunda-nunda. Padahal ajal
datangnya adalah tiba-tiba.
Lalu saya,
ketika ditanya apa yang saya lakukan dalam rangka meraih tiket surga itu?
Mungkin saya akan menjawab, “saya melakukan hal yang tidak dilakukan oleh
sahabat-sahabat Rasulullah dan Nabi-Nabi semuanya, yaitu menulis blog (:p) yang
semoga isinya bisa membuka hati orang banyak.” Ya Allah, terimalah.
Ya Allah,
jadikanlah hati kami terbuka dalam kebenaran-Mu, jauhkanlah kami dari mengikuti
musuh-musuh-Mu, dan tetapkanlah akhir kami sebagai orang yang terselamatkan di
sisi-Mu. Amin.
Ini tiketku,
mana tiketmu?
Malang, 7
September 2011
Tercatat sekarang pukul 06.18 WIB.


0 komen:
Posting Komentar